Selasa, 09 November 2010

Aku Cinta Padaku


SD, aku malu punya bapak  berprofesi sebagai petani. SMP, makin malu aku bilang bapakku adalah seorang petani. SMA memulai pencarian jati diri. Saat kuliah baru kutetapkan hatiku berbangga mengatakan “Bapakku adalah seorang petani”. 
Dan sejak saat itu aku malu mengingat masa-masaku yang memalukan, yaitu saat aku malu dengan tak tau malu.

Aku anak seorang petani, meski menjadi kepala desa dan kepala sekolah, hakikat bapakku adalah petani. Sawah dan hewan piaraan, disitu cintanya.

Aku dibesarkan di desa. Apa salahnya, hidup di dusun semacam Banggle (nama dusun & desaku). Aku berbahagia tumbuh disana, termasuk mencuri-curi waktu untuk mandi di sungai dan kolam .
Aku sekolah di SMP Hasanuddin, sebuah SLTP swasta di desaku. SMP dengan status tak terdengar saat itu, bahkan sampai saat ini teman-teman SMAku kadang bertanya “SMP Hasanuddin beneran ada, Fa?”. Tak ada salahnya juga sekolah di sana, dengannya aku menjangkau SMUN1 Blitar, SMU paling ngetop di Blitar pada masanya.

Terus dan terus setiap hari sampai hari ini belajar mencoba untuk mengatakan iya pada fakta-fakta yang tersemat padaku.

Iya benar, aku berusia lebih tua 2 tahun dibanding suamiku. Toh siapa pula yang dapat menjamin kedewasaan berdasarkan umur.

Iya benar, aku tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana IPB angkatan 2005, dan sampai saat ini menunggu keputusan kapan aku akan diadili,.. eh disidang. Apa pula gunanya aku menulis sebuah novel pembelaan diri untuk menjelaskan pada khalayak mengapa aku belum lulus juga.

Iya benar, aku sering kentut. Mulai di kamar, di jalan sampai mendayung kano di negaranya bu Angela Merkel. Toh aku tidak pernah lempar kentut sembunyi.. sembunyi apa ya..
Dan lagipula di dalam dunia perkentutan kan ada pesyaratan jika dan hanya jika 

Iya benar. Berat badanku naik hampir 9 kg dari biasanya (padahal belum hamil). Lagipula menjadi seorang gendhut yang cantik dan charming bukanlah suatu dosa.. (ngomongin siapa sih ini, wkwkkk..)

Iya benar, aku menikah 2 tahun yang lalu dan sampai sekarang belum punya anak bahkan hamil pun belum. Kiranya Allah masih memberiku waktu tahun madu untuk berdua-dua saja dengan suami tercinta. Nikmati saja.

Penerimaan bagiku bukan sekedar pasrah. Sebenarnya aku tak tau juga apa definisi dari sebuah penerimaan. Yang aku paham: penerimaan mungkin tak akan mengubah keadaan tapi akan membuatku lebih mencintai diriku sendiri, berbahagia dengan hidupku. Sehingga kuharapkan dengan cinta dan kebahagiaan yang semakin banyak, maka dapat aku bagi-bagikan ke sekelilingku, minimal.

It so nice to be me. I love myself, and that’s why I could love you.