There is special people in this world. We don't ask to be special. We just born this way.
Senin, 06 Desember 2010
Jigongdent
Suatu pagi di pasar tradisional dekat tempat tinggal.
Saya : “A’, beli mi telur 1″
Penjual : “Ga ada, teh. Adanya mi ayam. Mau?”
Saya : “He?…” sambil berpikir sejenak, mi ayam itu seperti apa ya..
Ya sudahlah ga ada salahnya nyoba masak mi ayam.
“Iya, gapapa deh, mi ayam. 1 bungkus. Berapa?”
Penjual : “3 ribu, teh” sambil ngeloyor pergi ke bagian belakang lapaknya untuk
mengambil barang yang hendak kubeli.
Aku mengulurkan 1 lembar uang 2 ribuan dan 1 lembar uang seribuan, dan dia mengulurkan mi ayamnya kepadaku.
Olala….. ternyata yang dimaksud si aa’ dengan mi ayam adalah : mi telur cap 3Ay*m. Antara kecewa karena gagal acara nyoba masak mi ayam dan juga kepengen ketawa jadinya.
Banyak barang-barang lain yang mengalami nasib serupa. Misalnya sering didengar di toko ” Mas, beli Aqua gelas sekardus, tapi yang merk 2T*ng.”.
Atau di kosan “Kalo jadi pergi ke supermarket nitip beliin Odol, yang merk ‘Jigongdent’, ya. Kalo selain merk itu aku mending ga gosok gigi deh..” (ini mah,.. jorok kelas berat).
In Focus jauh lebih sering diucapkan daripada proyektor. Sanyo adalah kata yang dipilih untuk menyatakan pompa air, bahkan ada daerah yang menggunakan kata Honda untuk menyebut sepeda motor. Masalah odol, dulu sudah ada yang pernah mengatakan ke saya, kalau odol itu merk pasta gigi jaman dahulu kala. Tapi saya kurang yakin karena belum pernah lihat bentuknya, jadi saya pikir kata odol adalah bentuk alias dari pasta gigi. Sampai pada suatu saat saya sempat hidup di negeri sebelahnya kompeni Belanda, dan menemukan pasta gigi merk “ODOL” di rak supermarket. Oh kiranya meneer Belanda yang mengenalkan pasta gigi merk ini kepada penduduk pribumi, yang notabene mungkin waktu itu menggosok gigi dengan batu bata yang dihaluskan.
Kemudia contoh kasus yang lebih ekstrim lagi adalah kadang orang luar negeri berpikir ada sebuah kota bernama Indonesia di negara Bali (pasti tuh bule belum punya banyak duit buat berlibur, makanya belum pernah datang ke Bali/Indonesia secara langsung).
Saya tidak hendak bilang ini bener atau salah karena saya juga tidak sedang mencari kebenaran apalagi mencari kebetulan, dari penyebutan barang-barang di atas. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi…
Malaikat Pendadar Telur
20.00 WIB. Regenstadt (Buitenzorg). 27 Nopember 2010.
Lauk dan sayur masakan hari ini masih ada, namun sepesang suami istri ini sepakat bahwa malam ini akan ada menu tambahan berupa telur dadar kesukaan mereka, dan sesuai kesepakatan pula sang suami yang akan memasaknya. Setelah membuat kesepakatan, si istri sibuk di depan komputer mengedit revisi tugas akhirnya, sedang si suami menikmati weekend dengan ngegame di laptop.
30 menit kemudian, si istri sudah mulai merasa lapar, dia menoleh kepada suaminya, masih asyik main games rupanya. 30 menit selanjutnya, semakin laparlah si istri, namun belum ada sinyal bahwa suami akan menjalankan kesepakatan malam ini. Si istri mencoba mengalihkan rasa lapar dengan melanjutkan pekerjannya, alih-alih lupa rasa laparnya justru semakin lapar. Sejenak si istri berpikir bagaimana caranya bisa bertindak sesuai dengan slogan pegadaian ‘menyelesaikan masalah tanpa masalah’.
Beberapa menit kemudian si istri menggeser duduk ke dekat suaminya. Duduk dengan santun, kemudian tangan dan wajahnya menengadah. Si istri pun mulai berdo’a dengan suara khidmat dan sungguh-sungguh berharap : “Ya Allah, hamba lapar. Lapaaar sekali… Mohon kirimkanlah malaikat pendadar telur kepada hamba. Amin”.
Suami langsung tertawa usai mendengar do’a si istri yang berada di sampingnya, menghentikan acara ngegamenya, mencium kening istrinya dan beranjak ke dapur, menjelma menjadi malaikat pendadar telur. Dan sejam kemudian, istri pun menjelma menjadi peri pencuci piring.
Akulah Sang Matahari
Hari ini buka Facebook, ada sahabat yang update status macam ini : “Aq tdk bs senang di atas kesedihan org, tp kalo org senang dgn kesedihanku, rela deh bersedih-sedih terus”
Hmm.. sounds great. Berhati mulia sekali sahabatku ini. Tapi enggak “gue banget”.
Boleh dibilang mungkin aku tipe oportunis, meski tentu saja tidak selalu. Tapi aku selalu merasa kurang sreg dengan permintaan pengorbanan yang tanpa batas. Salut ku ucapkan untuk orang-orang yang bisa melakukannya. Tapi aku tak bisa, atau lebih tepatnya tak mau.
Membahagiakan yang lain bukan berarti meletakkan kehidupanku ke dalam rendaman kesedihan, memberi banyak bukan berarti tak menyisakan apa pun buatku.
Bukankah bila benar ikhlas, maka membahagiakan orang lain akan menjadikan diriku bahagia. Lalu milik siapa kesedihan dan ketidakbahagiaan itu?.. Bila aku mampu membahagiakan orang lain sebanyak-banyaknya, maka aku yakin itu berarti aku akan hidup dengan tertimbun bahagia saking banyaknya kebahagiaan yang kumiliki. Aku yakin seperti itu. Aku yakin hukum mata rantai itu.
Aku. Aku tak ingin mengatakan “aku rela menjadi lilinmu”, karena dengan menjadi lilin aku hanya akan mampu menerangi semalam saja, lalu terbakar habis..
“Akulah mataharimu” yang akan menerangi alammu, yang akan memantulkan cahayaku sehingga kau tak tenggelam di dalam kegelapan meskipun kau sedang membelakangiku, yang akan membuatmu banyak belajar dari cahayaku, yang akan bersinar untukmu sampai akhir jaman. Bila aku membuatmu kepanasan, maka berlindunglah kau di balik awan. Dan bila kau menyentuh titik apiku, jangan salahkan aku bila kau hanya menjadi abu. Semua itu kulakuan bukan demi cintaku padamu, tapi karena itu adalah aku, sang matahari.
Aku tak sanggup jadi lilin, biarkanlah aku jadi matahari.
Bila Manusia Hanya Baju Suamiku
Kaos merk Adidas warna biru. Melar. Kumal. Kusam. Aku sudah pernah bilang ke suamiku, aku kurang suka dia pakai baju itu. Tapi berhubung si pemilik suka dan nyaman memakainya, ya sudahlah…
Kaos itu, kaos yang tak kusuka itu. Aku menyatukannya bersama baju-baju yang lain. Aku mencucinya dengan air yang sama dengan baju-baju yang lain. Aku menyetrikanya dengan setrika yang sama. Aku melipatnya dengan model lipatan yang sama. Bahkan aku juga memberikan pewangi & pelembut yang sama, sama persis dengan yang kuberikan ke hem kesayangannya (oleh-oleh istrinya yang cantik dan baik hati dari Jerman.hehehe..).
Pernahkah kau tak menyukai seseorang atau beberapa orang? Aku pernah. Sering malah.
Lalu kenapa pula sikapku jadi berbeda pada mereka yang tak kusuka. Kata-kata yang kugunakan mungkin sama persis dengan yang lain, tapi intonasi kadanglah tak sama. Kenapa…
Apakah aku lebih baik dari mereka? Kalo menurutku iya. Tapi secara hakikat tentu saja tidak. Manusia macam apa aku ini sehingga aku pasti lebih mulia dibanding mereka. Tapi mana bisa pula aku mengatur-atur hatiku untuk menyukai orang-orang yang tak kusuka.
Aku hanya ingin memperlakukan mereka seperti baju-baju suamiku. Bukan aku ingin mencuci dan menyetrika mereka… Maksudku, meski rasa suka dan tak sukaku tetap terpeta membentuk piramida, aku ingin belajar memperlakukan mereka sama selayaknya manusia yang lain. Bersifat Objektif dengan meminimalkan kecondongan hati. Agar aku dapat menghargai apa yang mereka kerjakan, bukan siapa yang mengerjakan hal tersebut.
Seandainya manusia hanyalah baju suamiku.
Langganan:
Postingan (Atom)



