Senin, 06 Desember 2010

Jigongdent







Suatu pagi di pasar tradisional dekat tempat tinggal.
Saya : “A’, beli mi telur 1″
Penjual : “Ga ada, teh. Adanya mi ayam. Mau?”
Saya : “He?…” sambil berpikir sejenak, mi ayam itu seperti apa ya..
Ya sudahlah ga ada salahnya nyoba masak mi ayam.
“Iya, gapapa deh, mi ayam. 1 bungkus. Berapa?”
Penjual : “3 ribu, teh” sambil ngeloyor pergi ke bagian belakang lapaknya untuk
mengambil barang yang hendak kubeli.

Aku mengulurkan 1 lembar uang 2 ribuan dan 1 lembar uang seribuan, dan dia mengulurkan mi ayamnya kepadaku.
Olala….. ternyata yang dimaksud si aa’ dengan mi ayam adalah : mi telur cap 3Ay*m. Antara kecewa karena gagal acara nyoba masak mi ayam dan juga kepengen ketawa jadinya.

Banyak barang-barang lain yang mengalami nasib serupa. Misalnya sering didengar di toko ” Mas, beli Aqua gelas sekardus, tapi yang merk 2T*ng.”.
Atau di kosan “Kalo jadi pergi ke supermarket nitip beliin Odol, yang merk ‘Jigongdent’, ya. Kalo selain merk itu aku mending ga gosok gigi deh..” (ini mah,.. jorok kelas berat).

In Focus jauh lebih sering diucapkan daripada proyektor. Sanyo adalah kata yang dipilih untuk menyatakan pompa air, bahkan ada daerah yang menggunakan kata Honda untuk menyebut sepeda motor. Masalah odol, dulu sudah ada yang pernah mengatakan ke saya, kalau odol itu merk pasta gigi jaman dahulu kala. Tapi saya kurang yakin karena belum pernah lihat bentuknya, jadi saya pikir kata odol adalah bentuk alias dari pasta gigi. Sampai pada suatu saat saya sempat hidup di negeri sebelahnya kompeni Belanda, dan menemukan pasta gigi merk “ODOL” di rak supermarket. Oh kiranya meneer Belanda yang mengenalkan pasta gigi merk ini kepada penduduk pribumi, yang notabene mungkin waktu itu menggosok gigi dengan batu bata yang dihaluskan.

Kemudia contoh kasus yang lebih ekstrim lagi adalah kadang orang luar negeri berpikir ada sebuah kota bernama Indonesia di negara Bali (pasti tuh bule belum punya banyak duit buat berlibur, makanya belum pernah datang ke Bali/Indonesia secara langsung).

Saya tidak hendak bilang ini bener atau salah karena saya juga tidak sedang mencari kebenaran apalagi mencari kebetulan, dari penyebutan barang-barang di atas. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi…

Malaikat Pendadar Telur





20.00 WIB. Regenstadt (Buitenzorg).  27 Nopember 2010.

Lauk dan sayur masakan hari ini masih ada, namun sepesang suami istri ini sepakat bahwa malam ini akan ada menu tambahan berupa telur dadar kesukaan mereka, dan sesuai kesepakatan pula sang suami yang akan memasaknya. Setelah membuat kesepakatan, si istri sibuk di depan komputer mengedit revisi tugas akhirnya, sedang si suami menikmati weekend dengan ngegame di laptop.

30 menit kemudian, si istri sudah mulai merasa lapar, dia menoleh kepada suaminya,  masih asyik main games rupanya. 30 menit selanjutnya, semakin laparlah si istri, namun belum ada sinyal bahwa suami akan menjalankan kesepakatan malam ini. Si istri mencoba mengalihkan rasa lapar dengan melanjutkan pekerjannya, alih-alih lupa rasa laparnya justru semakin lapar. Sejenak si istri berpikir bagaimana caranya bisa bertindak sesuai dengan slogan pegadaian ‘menyelesaikan masalah tanpa masalah’.

Beberapa menit kemudian si istri menggeser duduk ke dekat suaminya. Duduk dengan santun, kemudian tangan dan wajahnya menengadah. Si istri pun mulai  berdo’a  dengan suara khidmat dan sungguh-sungguh berharap : “Ya Allah, hamba lapar. Lapaaar sekali… Mohon kirimkanlah malaikat pendadar telur kepada hamba. Amin”.

Suami langsung tertawa usai mendengar do’a si istri yang berada di sampingnya, menghentikan acara ngegamenya, mencium kening istrinya dan beranjak ke dapur, menjelma menjadi malaikat pendadar telur. Dan sejam kemudian, istri pun menjelma menjadi peri  pencuci piring.

Akulah Sang Matahari

Hari ini buka Facebook, ada sahabat yang update status macam ini : “Aq tdk bs senang di atas kesedihan org, tp kalo org senang dgn kesedihanku, rela deh bersedih-sedih terus”
Hmm.. sounds great. Berhati mulia sekali sahabatku ini. Tapi enggak “gue banget”.
Boleh dibilang mungkin aku tipe oportunis, meski tentu saja tidak selalu. Tapi aku selalu merasa kurang sreg dengan permintaan pengorbanan yang tanpa batas. Salut ku ucapkan untuk orang-orang yang bisa melakukannya. Tapi aku tak bisa, atau lebih tepatnya tak mau.
Membahagiakan yang lain bukan berarti meletakkan kehidupanku ke dalam rendaman kesedihan, memberi banyak bukan berarti tak menyisakan apa pun buatku.
Bukankah bila benar ikhlas, maka membahagiakan orang lain akan menjadikan diriku bahagia. Lalu milik siapa kesedihan dan ketidakbahagiaan itu?.. Bila aku mampu membahagiakan orang lain sebanyak-banyaknya, maka aku yakin itu berarti aku akan hidup dengan tertimbun bahagia saking banyaknya kebahagiaan yang kumiliki. Aku yakin seperti itu. Aku yakin hukum mata rantai itu.
Aku. Aku tak ingin mengatakan “aku rela menjadi lilinmu”, karena dengan menjadi lilin aku hanya akan mampu menerangi semalam saja, lalu terbakar habis..
“Akulah mataharimu” yang akan menerangi alammu, yang akan memantulkan cahayaku sehingga kau tak tenggelam di dalam kegelapan meskipun kau sedang membelakangiku, yang akan membuatmu banyak belajar dari cahayaku, yang akan bersinar untukmu sampai akhir jaman. Bila aku membuatmu kepanasan, maka berlindunglah kau di balik awan. Dan bila kau menyentuh titik apiku, jangan salahkan aku bila kau hanya menjadi abu. Semua itu kulakuan bukan demi cintaku padamu, tapi karena itu adalah aku, sang matahari.
Aku tak sanggup jadi lilin, biarkanlah aku jadi matahari.

Bila Manusia Hanya Baju Suamiku

Kaos merk Adidas warna biru. Melar. Kumal. Kusam. Aku sudah pernah bilang ke suamiku, aku kurang suka dia pakai baju itu. Tapi berhubung si pemilik suka dan nyaman memakainya, ya sudahlah…

Kaos itu, kaos yang tak kusuka itu. Aku menyatukannya bersama baju-baju yang lain. Aku mencucinya dengan air yang sama dengan baju-baju yang lain. Aku menyetrikanya dengan setrika yang sama. Aku melipatnya dengan model lipatan yang sama. Bahkan aku juga memberikan pewangi & pelembut yang sama, sama persis dengan yang kuberikan ke hem kesayangannya (oleh-oleh istrinya yang cantik dan baik hati dari Jerman.hehehe..).

Pernahkah kau tak menyukai seseorang atau beberapa orang? Aku pernah. Sering malah.
Lalu kenapa pula sikapku jadi berbeda pada mereka yang tak kusuka. Kata-kata yang kugunakan mungkin sama persis dengan yang lain, tapi intonasi kadanglah tak sama. Kenapa…

Apakah aku lebih baik dari mereka? Kalo menurutku iya. Tapi secara hakikat tentu saja tidak. Manusia macam apa aku ini sehingga aku pasti lebih mulia dibanding mereka. Tapi mana bisa pula aku mengatur-atur hatiku untuk menyukai orang-orang yang tak kusuka.

Aku hanya ingin memperlakukan mereka seperti baju-baju suamiku. Bukan aku ingin mencuci dan menyetrika mereka… Maksudku, meski rasa suka dan tak sukaku tetap terpeta membentuk piramida, aku ingin belajar memperlakukan mereka sama selayaknya manusia yang lain. Bersifat Objektif dengan meminimalkan kecondongan hati. Agar aku dapat menghargai apa yang mereka kerjakan, bukan siapa yang mengerjakan hal tersebut.

Seandainya manusia hanyalah baju suamiku.

Selasa, 09 November 2010

Aku Cinta Padaku


SD, aku malu punya bapak  berprofesi sebagai petani. SMP, makin malu aku bilang bapakku adalah seorang petani. SMA memulai pencarian jati diri. Saat kuliah baru kutetapkan hatiku berbangga mengatakan “Bapakku adalah seorang petani”. 
Dan sejak saat itu aku malu mengingat masa-masaku yang memalukan, yaitu saat aku malu dengan tak tau malu.

Aku anak seorang petani, meski menjadi kepala desa dan kepala sekolah, hakikat bapakku adalah petani. Sawah dan hewan piaraan, disitu cintanya.

Aku dibesarkan di desa. Apa salahnya, hidup di dusun semacam Banggle (nama dusun & desaku). Aku berbahagia tumbuh disana, termasuk mencuri-curi waktu untuk mandi di sungai dan kolam .
Aku sekolah di SMP Hasanuddin, sebuah SLTP swasta di desaku. SMP dengan status tak terdengar saat itu, bahkan sampai saat ini teman-teman SMAku kadang bertanya “SMP Hasanuddin beneran ada, Fa?”. Tak ada salahnya juga sekolah di sana, dengannya aku menjangkau SMUN1 Blitar, SMU paling ngetop di Blitar pada masanya.

Terus dan terus setiap hari sampai hari ini belajar mencoba untuk mengatakan iya pada fakta-fakta yang tersemat padaku.

Iya benar, aku berusia lebih tua 2 tahun dibanding suamiku. Toh siapa pula yang dapat menjamin kedewasaan berdasarkan umur.

Iya benar, aku tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana IPB angkatan 2005, dan sampai saat ini menunggu keputusan kapan aku akan diadili,.. eh disidang. Apa pula gunanya aku menulis sebuah novel pembelaan diri untuk menjelaskan pada khalayak mengapa aku belum lulus juga.

Iya benar, aku sering kentut. Mulai di kamar, di jalan sampai mendayung kano di negaranya bu Angela Merkel. Toh aku tidak pernah lempar kentut sembunyi.. sembunyi apa ya..
Dan lagipula di dalam dunia perkentutan kan ada pesyaratan jika dan hanya jika 

Iya benar. Berat badanku naik hampir 9 kg dari biasanya (padahal belum hamil). Lagipula menjadi seorang gendhut yang cantik dan charming bukanlah suatu dosa.. (ngomongin siapa sih ini, wkwkkk..)

Iya benar, aku menikah 2 tahun yang lalu dan sampai sekarang belum punya anak bahkan hamil pun belum. Kiranya Allah masih memberiku waktu tahun madu untuk berdua-dua saja dengan suami tercinta. Nikmati saja.

Penerimaan bagiku bukan sekedar pasrah. Sebenarnya aku tak tau juga apa definisi dari sebuah penerimaan. Yang aku paham: penerimaan mungkin tak akan mengubah keadaan tapi akan membuatku lebih mencintai diriku sendiri, berbahagia dengan hidupku. Sehingga kuharapkan dengan cinta dan kebahagiaan yang semakin banyak, maka dapat aku bagi-bagikan ke sekelilingku, minimal.

It so nice to be me. I love myself, and that’s why I could love you.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Ich bin Javanerin und spreche nicht gut Deutsch


Deutsch.
Deutsch ist eine Fremdsprache  für mich. Von ersten Mal habe ich das gewusst “ich mag diese Sprache”.
Am Anfangnovember bin ich in Deutschland gekommen. Ich und die andere Teilnehmer. In meine Klasse gabt es 11 Personen. 7 Personen kommen aus Indonesien, und die andere kommen aus Brazil. Wir haben eine Deutschlehrerin, und naturlich “sie ist eine echte Deutsche”.
Jeden Tag haben wir Deutsch gelernt. Jeden Tag haben wir gesagt : Wie heiβen Sie? Woher kommen Sie? Und naturlich eine Mussfrage HEY, WIE GEHTS???

OK, OK.. alle sind gut und in Ordnung. Aber alles geht schwerer. Warum? Weiβ du doch, dass Deutsch drei Artikel hat??  Der, das und die. Maskulin, neutral und feminine. Jede Artikel hat geändert, in Nominativ, Akkusativ, Dativ und Genitiv. Nicht nur der, das, und die. Sondern auch den, dem, denen und andere der.
SCHEIβE! Diese Sprache ist zu kompliziert!

In Indonesisch oder Bahasa, alle sind einfach. Keinen Artikel, keine Anderung von verbe, die Zukunft und die Vergangenheit sind gleich. Oh,… das ist eine wunderschöne Sprache, oder?
Aber ich bin Javanerin. Javanisch ist auch sehr komplizierte Sprache. Es gibt drei Level : ngoko, kromo und kromo inggil. Umgangsprache, Hochjavanesisch und wirklich Hochjavanesisch. Das bedeutet : Ich kann Deutsch schaffen.
Ich bin Javanerin und spreche nicht gut Deutsch. Aber doch ich gerne auf Deutsch sprechen.


Rabu, 27 Oktober 2010

Cinta Kasih DNA

DNA terdiri dari 4 jenis basa A(Adenine), C(Cytosine), T(Thymine) dan G(Guanine).
Dogma Sentral Genetika Molekuler : DNA akan ditranskripsikan menjadi RNA -> susunan 3 basa RNA membentuk 1 kodon -> 1 kodon akan menyandikan 1 asam amino -> asam amino-asam amino akan menyandikan protein . Protein adalah syarat mutlak di dalam metabolisme.

Aku dan suamiku memiliki banyak hal yang berbeda. Mulai dari golongan darah, dia B dan aku A. Orang juga tau seperti apa umumnya pemilik golongan darah B dan A. Aku tipe worries, dia dapat membuat dirinya nyaman hampir dalam setiap keadaan. Aku berusaha untuk selalu tepat waktu, dia berpendapat ‘kalau bisa nanti kenapa harus buru-buru sekarang’. Aku tipe orang yang sangat memerdulikan detail, dia berkata ‘GBHNnya saja’.
Oh Gott!

Saling jatuh cinta tak membuat tabiat berubah. Bahkan  sempat putus saat genap kami pacaran selama 1 tahun. Tapi itulah kejadian yang membawa sebuah pemahaman baru.

2 tahun kami pacaran, dan usia pernikahan kami adalah 2 tahun pada bulan ini. Perbedaan tetap bersemi dengan suburnya. Aku berkata ‘hunny, sesudah pakai semua barang harus dikembalikan rapi ke tempatnya, supaya mudah mencari’. Dia berkata ‘biarlah yang, justru lebih mudah menemukannya kalau berserakan’.  ‘yah, bawangnya jangan banyak-banyak, baunya ih.. ‘gapapa, nda. Lebih sedap dan sehat’.

Dia tetap dirinya dan aku tetap diriku. Bagaimana bisa???
Kembalilah pada  dogma dari 2 utas DNA. Basa A selalu berpasangan dengan T, dan C selalu berpasangan dengan G. Kenapa? Karena Adenin hanya komplemen dengan Thiamin, dan Citocyn hanya komplemen dengan Guanin. Tidak harus sama, dears... Tidak harus sama untuk bersama. Justru perbedaan itu yang menyatukan, selama kita menyikapi perbedaan dengan bijak. Biarlah aku menjadi Adenine yang ekspresif,melodrama lengkap dengan emosi meledak-ledak, maka dia Thymineku akan menjadi katup yang meregulasi agar aku meledak dengan benar. Biarlah dia menjadi Cytosine yang mengerjakan segala sesuatu sesuai moodnya, maka aku si Guanine dengan gaya militer yang mendisiplikannya. Maka kami menjadi komplemen, dan semoga menghasilkan metabolisme yang indah, untuk banyak hal. Untuk alam semesta. 
I wish..

Minggu, 26 September 2010

Tamally maak. I'm always with you.


Tamally maak. Ich bin immer bei dir. I’m always with you.

Tamally maak, tamally fe baly we fe alby, Wala bansak. Tamally waheshny, Low hata akoon waiak

I'm always with you, you're always in my mind and in my heart, and I never forget you. I'm always missing you, even when I'm with you.

Sebuah lagu yang indah dengan lirik yang maha indah. Pertamakali mendengarkan karena di-tag seorang sahabat dalam situs jejaring hasil karya Zuckerberg and the gank.
Tak sengaja masuk play list, dan tak sengaja pula sering terdengar. Sehingga datanglah suka. Suka dan mencari liriknya, kemudian mencari terjemahannya. Membaca liriknya, suka menjadi sangat suka bahkan mungkin jatuh cinta.
Dari sekedar bernyanyi-nyanyi dengan riang, sampai akhirnya menjadi tercenung malu. Kapan lirik semacam ini kulantunkan untukNya… Kapan jiwaku bernanyi semacam ini untukNya.. Kenapa jarang, jaraaang sekali kukatakan padaNya, bahwa aku sangat mencintaiNya. Dia yang tetap mencintaiku di saat aku tak memikirkanNya. Dia yang selalu bersamaku, di saat kadang aku merasa jauuuuh sekali dariNya. Dia yang selalu berucap “Tamally maak”, I’m always with you.
Berilah aku kesempatan, ajarlah aku untuk belajar mengatakannya dengan hatiku. PadaMu. Setiap hari. Setiap hembusan nafasku. Setiap detak jantungku.
Tamally maak, tamally fe baly we fe alby. Tamally…

Minggu, 29 Agustus 2010

Ya, Saya Siap Bersedia!


Kenapa banyak orang tua mengaharapkan anaknya menjadi PNS?

Aku ga tau sama sekali jawabannya. Alasan pertama, kedua orang tuaku bukan PNS. Bapakku petani. Ibuku seorang ibu rumah tangga, orang Berlin bilang echte Hausfrau. Alasan kedua, kedua orang tuaku belum pernah sekalipun memintaku jadi PNS.

Jangan salah paham bahwa aku anti PNS, karena tak tertutup kemungkinan suatu saat aku menjadi bagian dari PNS pula. Ada beberapa institusi pemerintah yang boleh dibilang “gue bangeeet”, so we will see..

Banyak sahabatku yang tercatat sebagai PNS. Ada yang so so.. alias biasa-biasa saja, ada yang lumayan berkiprah, ada yang benar-benar eksis dan sukses. Ada yang menganggap bahwa profesinya hanyalah sebagai pelarian daripada nganggur yang penting dapat duitlah, ada yang mencintai pekerjaannya karena sesuai disiplin ilmunya, ada yang mencintai pekerjaannya karena rasa cintanya kepada Bangsa dan Negara, namun adapula yang bekerja karena “titah orang tua”.

Aku pernah mendengar cerita seorang teman. Dia memiliki sebuah usaha sendiri, masih kecil memang, kadang terseok malah. Tapi dia sangat bangga dan bahagia sekali dengan usahanya. Sampai suatu saat dia mendapat ultimatum dari orang tuanya, dia HARUS daftar PNS di kotanya bila tidak maka orang tua akan sangat murka. Apapun akan dilakukan oleh si orang tua, kucuran dana berapapun akan disiapkan demi menunjang kemulusan memasuki gerbang PNS. Sedih dan bingung bukan kepalang si temanku. Antara keinginan berdikari pada dunia yang dicintai dan keinginan untuk berbakti kepada orang tua. Sayang sekali aku tak tau akhir kisah ini karena tak pernah lagi mendengar kabarnya.

Alangkah indahnya bila seorang PNS masuk dengan jalur yang benar serta kesadaran yang tinggi dari diri sendiri. Dengan mantap bilang “ya, inilah saya, dan  saya siap menjadi pelayan masyarakat dengan menjalankan tugas saya sebaik-baiknya dan sepenuh hati”.

Ah, sudahlah.. Apapun alasan orang tua memintamu jadi PNS, aku yakin karena mereka sangat mencintaimu dan mereka berharap kamu bahagia.

Amini saja do’a mereka terlepas kamu mau atau tidak jadi PNS. OK?

Rabu, 18 Agustus 2010

EAT YOUR OWN SMOKE!


Bila melihat tulisan tersebut mungkin anda dapat langsung menyimpulkan bahwa “saya tidak merokok dan anti rokok”. Jawabannya IYA! Kemudian bila anda menanyakan lagi kepada saya “apakah saya tidak suka ada orang merokok?" Jawabnya IYA! Bila anda menanyakan lebih lanjut "apakah berarti saya membenci orang-orang yang merokok itu?" Jawab saya adalah  JELAS TIDAK!
Perlu ada pemahaman dan pemisahan di sini. Bahwa yang saya nyatakan perang di sini adalah  aktifitas merokok.  SAYA BENCI ROKOK, tapi tidak membuat saya membenci orang-orang yang saya cintai yang sampai hari ini mereka terus aktif merokok, dan tidak pula membuat saya mencintai rokok hanya karena orang-orang yang saya cintai juga merokok.
Apakah sistem inti kehidupan saya bebas rokok? TIDAK! Lalu bagaimana saya berani menyatakan perang terhadap rokok. Jawabnya adalah karena saya adalah saya, saya tidak merokok dan merasa memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan diri saya dan juga dan juga sekian banyak manusia lain dari asap rokok yang dijejalkan dengan paksa terhadap kami. Lalu darimana keberanian saya berteriak “Eat your own smoke!”? Jujur saya memerlukan waktu yang sangat lama unutk menyatakan hal ini, bagaimana saya bisa berteriak sedangkan lingkaran cinta  saya tidak secara keseluruhan bebas rokok. Tekad saya menguat  setelah saya membaca kembali  kisah Nabi Nuh As. Benar bahwa beliau tidak mampu mengajak istri dan anaknya, tapi tidak menghalangi beliau membawa orang-orang yang mau diselamatkannya di dalam perahunya. Lalu apakah lagi seorang Ulfa.  Alasan apa yang mampu merekat mulut saya untuk tetap diam?..

Merokok  atau tidak merokok adalah suatu pilihan. Bila anda memilih hidup dengan rokok dan siap dengan segala resikonya, saya hargai pilihan anda. Ini adalah hidup anda. Tapi menurut saya adalah suatu tindakan yang egois, and bahkan SANGAT EGOIS, ketika anda membagi racun dari pilihan hidup anda terhadap orang lain, terutama orang-orang yang anda bilang sebagai orang yang anda sayangi. Dan juga SANGAT EGOIS ketika anda juga menjejalkan ranjau dari pilihan hidup anda terhadap orang yang bahkan anda tidak tahu namanya. Merokok tidak merokok itu urusan anda, tapi tolong jangan bagi asap rokok anda dengan orang yang tidak merokok.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Bila suatu saat mataku tak mampu lagi membedakan Bayam dan Sawi


Siang  ini sebelum suami berangkat kerja (ada rapat dengan tim proyeknya) aku sudah berpesan, “Hari ini aku ga masak ya,.. lagi males.”, dan dijawab dengan senyuman serta ciuman di kening “Iya, gapapa. Nanti kita beli saja di warung”. Case Closed!

Tapi lama lama kok ya rasanya di hati ga enak juga, ga masakin suami hanya gara-gara males. Kalo aku sibuk iya gapapa, kalo aku sakit iya gapapa. Lha kalo aku males?.. Suamiku hampir tiap hari kerja, mencari rizqi yang halal dan barokah untuk menafkahi istrinya yang cantik, lucu dan jimbrut ini. Meski males juga tetep kerja. Selayaknyalah aku gundah gulana bila tak menyiapkan makanan untuk suamiku padahal aku bisa. Sangat bisa malah..

Suamiku tipe orang yang Alhamdulillah jarang ato bahkan hampir tidak pernah mencela makanan, dan selalu mengajarkanku hal yang sama, mensyukuri makanan yang ada dan bila tak suka cukup tinggalkan,  jangan mencela. Meski tetep saja aku kadang menggerutu kalo ada makanan rasanya ga karuan, apalagi kalo beli (Kesel bo’..). Masakanku yang kadang aku rasa kurang sedap pun selalu dia makan walau sedikit.  Ketika dia menyukai masakanku maka dia akan memejamkan mata dan berucap “Alhamdulillah..” berulangkali sambil makan. Dan itu hampir terjadi di setiap masakanku. Jadi alasan apalagi yang bisa membenarkanku tak memasakannya dengan alibi malas. Tak selayaknya kumewahkan rasa malasku.
Jadi kesimpulannya hari ini aku akan memasakkannya. Makanan kesukannya.

Ya Allah ijinkanlah aku memasakkannya sepanjang umurku, bahkan ketika mata tuaku sudah tak bisa membedakan antara bayam dan sawi tanpa adanya kacamata. Amin..

Sabtu, 07 Agustus 2010

TOELIESAN PERTAMA NJONJA OELFA MOESHOFA


Latar Belakang
Kenapa membuat blog? Yang pertama adalah iseng, kedua adalah iseng, ketiga adalah iseng. Setengah bohong, ini yang asli... . Aku, Ulfa Mushofa, adalah seorang yang punya hobi sebagaimana umumnya para manusia di dunia ini yaitu mengemukakan pendapat berupa saran, sanjungan atau kecaman, membahas sesuatu dari hal yang remeh temeh sampai hal yang bersifat sangat prinsip buatku dan  mungkin yang paling sering adalah, mmmmm….. mengomel. Yak, kupikir mengomel kata yang lebih representatif untukku :P
Jangan salah, aku pikir mengomel merupakan salah satu bentuk ekspresi dari jiwa dan ungkapan dari hati, merupakan sarana agar aspirasi kita dapat diketahui oleh orang lain, dan juga merupakan salah satu fakta bahwa kita tidak menderita autis (karena kita kita mampu beraksi atas peristiwa di sekitar kita) (Mushofa, 2010). Btw, aku tidak tahu apakah aku sedang menjelaskan definisi tentang mengomel atau sedang bersikap defensif untuk melakukan pembenaran atas perbuatan mengomel.

Permasalahan
Sebenarnya sampai saat ini dilihat dari data statistik tidak pernah muncul permasalahan yang signifikan pada akibat hobi-hobiku yang tersebut di atas (dengan selang kepercayaan 95%), suamiku selalu menjadi pendengar dan komentator yang sangat baik. Selain kusuarakan melaui mulut, seringkali juga kuketik dan kusimpan dalam dokumen berbentuk word. Permasalahan muncul ketika aku mulai berpikir bahwa “mumpung aku bisa, aku dapat melakukan sesuatu yang lebih dari ini, dan aku memerlukan suatu wadah yang lebih baik”. Tapi bagaimana caranya?

Tujuan
Blog ini dibuat dengan tujuan menjadikannya sebuah wadah untuk menyuarakan hasil pemikiran dan pendapatku dengan menggunakan tulisan dan memanfaatkan media publikasi.

Hipotesis
Pembuatan blog ini diduga akan :
Mampu mendorong minat menulisku
Mampu meningkatkan kemampuan menulisku
Mampu meningkatkan minat baca untuk menambah referensi pada topik-topik yang ingin aku bahas
Mampu menginspirasi makhluk-makhluk yang lain untuk mau dan cukup percaya diri untuk menulis, becoz I am so inspiring (www.ulfasuperpede.com) ^_^

Metodologi
Alat :
Pembuatan blog ini dilakukan dengan menulis serta merta hal-hal yang pengen aku share. Penulisan dilakukan dengan menggunakan seperangkat computer (biasa aku menyebutnya Kokom) yang tesusun atas sebuah keyboard (ya iyalah 1, tanganku cuma 2), monitor, CPU dan jaringan internet yang didanai oleh Prasetyo Foundation. Keyboard digunakan untuk mengetik oleh jari-jariku yang lumayan lentik (Prasetyo, 2008, 2009, 2010). Monitor berfungsi untuk melihat hasil ketikan juga penampakan setelah penulisan, sehingga dapat dilakukan pengeditan. Btw, penampakan kesannya serem amat yak..

Bahan :
Bahan tulisan adalah semua peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi, baik terjadi langsung kepadaku (Ulfa Mushofa) selaku penulis atau terjadi pada orang lain. Hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan bahan diatas, namun menjadi pemikiran yang dilanggap layak untuk ditulis juga bisa menjadi bahan tersendiri untuk penulisan.

Metode:
Metode penulisan blog ini dilakukan dengan semau-maunya dengan tanpa mengindahkan Ejaan Yang Dibenarkan (yang selanjutnya akan disingkat EYD), serta kemungkinan akan disukai atau tidak oleh pembaca.


Daftar Pustaka
Teguh Prasetyo. 2008. Jarimu lentik juga ya bun. Edisi pertama. Prasetyo Press. Bogor.
Teguh Prasetyo. 2009. Jarimu lentik juga ya bun. Edisi kedua. Prasetyo Press. Bogor.
Teguh Prasetyo. 2010. Jarimu lentik juga ya bun. Edisi ketiga. Prasetyo Press. Bogor.
Ulfa Mushofa. 2010. Mengomel itu kadang indah. Mushofa Press. Bogor.

Ucapan Terimakasih

Prasetyo Foundation, atas dukungan moral serta finansial.
Budhe Nana, atas saran dan kerjasamanya.
Mbak Indah Wijayanti, atas bujukannya membuat blog setahun yang lalu (aku dah bikin tahun 2008 mbak, dah tak buang).