There is special people in this world. We don't ask to be special. We just born this way.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Bila suatu saat mataku tak mampu lagi membedakan Bayam dan Sawi
Siang ini sebelum suami berangkat kerja (ada rapat dengan tim proyeknya) aku sudah berpesan, “Hari ini aku ga masak ya,.. lagi males.”, dan dijawab dengan senyuman serta ciuman di kening “Iya, gapapa. Nanti kita beli saja di warung”. Case Closed!
Tapi lama lama kok ya rasanya di hati ga enak juga, ga masakin suami hanya gara-gara males. Kalo aku sibuk iya gapapa, kalo aku sakit iya gapapa. Lha kalo aku males?.. Suamiku hampir tiap hari kerja, mencari rizqi yang halal dan barokah untuk menafkahi istrinya yang cantik, lucu dan jimbrut ini. Meski males juga tetep kerja. Selayaknyalah aku gundah gulana bila tak menyiapkan makanan untuk suamiku padahal aku bisa. Sangat bisa malah..
Suamiku tipe orang yang Alhamdulillah jarang ato bahkan hampir tidak pernah mencela makanan, dan selalu mengajarkanku hal yang sama, mensyukuri makanan yang ada dan bila tak suka cukup tinggalkan, jangan mencela. Meski tetep saja aku kadang menggerutu kalo ada makanan rasanya ga karuan, apalagi kalo beli (Kesel bo’..). Masakanku yang kadang aku rasa kurang sedap pun selalu dia makan walau sedikit. Ketika dia menyukai masakanku maka dia akan memejamkan mata dan berucap “Alhamdulillah..” berulangkali sambil makan. Dan itu hampir terjadi di setiap masakanku. Jadi alasan apalagi yang bisa membenarkanku tak memasakannya dengan alibi malas. Tak selayaknya kumewahkan rasa malasku.
Jadi kesimpulannya hari ini aku akan memasakkannya. Makanan kesukannya.
Ya Allah ijinkanlah aku memasakkannya sepanjang umurku, bahkan ketika mata tuaku sudah tak bisa membedakan antara bayam dan sawi tanpa adanya kacamata. Amin..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

wah, kalau ga bisa masakin bayam dan sawi, ntar rencana mau masak sayur bayam jadi sayur sawi dong :)
BalasHapus