There is special people in this world. We don't ask to be special. We just born this way.
Minggu, 29 Agustus 2010
Ya, Saya Siap Bersedia!
Kenapa banyak orang tua mengaharapkan anaknya menjadi PNS?
Aku ga tau sama sekali jawabannya. Alasan pertama, kedua orang tuaku bukan PNS. Bapakku petani. Ibuku seorang ibu rumah tangga, orang Berlin bilang echte Hausfrau. Alasan kedua, kedua orang tuaku belum pernah sekalipun memintaku jadi PNS.
Jangan salah paham bahwa aku anti PNS, karena tak tertutup kemungkinan suatu saat aku menjadi bagian dari PNS pula. Ada beberapa institusi pemerintah yang boleh dibilang “gue bangeeet”, so we will see..
Banyak sahabatku yang tercatat sebagai PNS. Ada yang so so.. alias biasa-biasa saja, ada yang lumayan berkiprah, ada yang benar-benar eksis dan sukses. Ada yang menganggap bahwa profesinya hanyalah sebagai pelarian daripada nganggur yang penting dapat duitlah, ada yang mencintai pekerjaannya karena sesuai disiplin ilmunya, ada yang mencintai pekerjaannya karena rasa cintanya kepada Bangsa dan Negara, namun adapula yang bekerja karena “titah orang tua”.
Aku pernah mendengar cerita seorang teman. Dia memiliki sebuah usaha sendiri, masih kecil memang, kadang terseok malah. Tapi dia sangat bangga dan bahagia sekali dengan usahanya. Sampai suatu saat dia mendapat ultimatum dari orang tuanya, dia HARUS daftar PNS di kotanya bila tidak maka orang tua akan sangat murka. Apapun akan dilakukan oleh si orang tua, kucuran dana berapapun akan disiapkan demi menunjang kemulusan memasuki gerbang PNS. Sedih dan bingung bukan kepalang si temanku. Antara keinginan berdikari pada dunia yang dicintai dan keinginan untuk berbakti kepada orang tua. Sayang sekali aku tak tau akhir kisah ini karena tak pernah lagi mendengar kabarnya.
Alangkah indahnya bila seorang PNS masuk dengan jalur yang benar serta kesadaran yang tinggi dari diri sendiri. Dengan mantap bilang “ya, inilah saya, dan saya siap menjadi pelayan masyarakat dengan menjalankan tugas saya sebaik-baiknya dan sepenuh hati”.
Ah, sudahlah.. Apapun alasan orang tua memintamu jadi PNS, aku yakin karena mereka sangat mencintaimu dan mereka berharap kamu bahagia.
Amini saja do’a mereka terlepas kamu mau atau tidak jadi PNS. OK?
Rabu, 18 Agustus 2010
EAT YOUR OWN SMOKE!
Bila melihat tulisan tersebut mungkin anda dapat langsung menyimpulkan bahwa “saya tidak merokok dan anti rokok”. Jawabannya IYA! Kemudian bila anda menanyakan lagi kepada saya “apakah saya tidak suka ada orang merokok?" Jawabnya IYA! Bila anda menanyakan lebih lanjut "apakah berarti saya membenci orang-orang yang merokok itu?" Jawab saya adalah JELAS TIDAK!
Perlu ada pemahaman dan pemisahan di sini. Bahwa yang saya nyatakan perang di sini adalah aktifitas merokok. SAYA BENCI ROKOK, tapi tidak membuat saya membenci orang-orang yang saya cintai yang sampai hari ini mereka terus aktif merokok, dan tidak pula membuat saya mencintai rokok hanya karena orang-orang yang saya cintai juga merokok.
Apakah sistem inti kehidupan saya bebas rokok? TIDAK! Lalu bagaimana saya berani menyatakan perang terhadap rokok. Jawabnya adalah karena saya adalah saya, saya tidak merokok dan merasa memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan diri saya dan juga dan juga sekian banyak manusia lain dari asap rokok yang dijejalkan dengan paksa terhadap kami. Lalu darimana keberanian saya berteriak “Eat your own smoke!”? Jujur saya memerlukan waktu yang sangat lama unutk menyatakan hal ini, bagaimana saya bisa berteriak sedangkan lingkaran cinta saya tidak secara keseluruhan bebas rokok. Tekad saya menguat setelah saya membaca kembali kisah Nabi Nuh As. Benar bahwa beliau tidak mampu mengajak istri dan anaknya, tapi tidak menghalangi beliau membawa orang-orang yang mau diselamatkannya di dalam perahunya. Lalu apakah lagi seorang Ulfa. Alasan apa yang mampu merekat mulut saya untuk tetap diam?..
Merokok atau tidak merokok adalah suatu pilihan. Bila anda memilih hidup dengan rokok dan siap dengan segala resikonya, saya hargai pilihan anda. Ini adalah hidup anda. Tapi menurut saya adalah suatu tindakan yang egois, and bahkan SANGAT EGOIS, ketika anda membagi racun dari pilihan hidup anda terhadap orang lain, terutama orang-orang yang anda bilang sebagai orang yang anda sayangi. Dan juga SANGAT EGOIS ketika anda juga menjejalkan ranjau dari pilihan hidup anda terhadap orang yang bahkan anda tidak tahu namanya. Merokok tidak merokok itu urusan anda, tapi tolong jangan bagi asap rokok anda dengan orang yang tidak merokok.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Bila suatu saat mataku tak mampu lagi membedakan Bayam dan Sawi
Siang ini sebelum suami berangkat kerja (ada rapat dengan tim proyeknya) aku sudah berpesan, “Hari ini aku ga masak ya,.. lagi males.”, dan dijawab dengan senyuman serta ciuman di kening “Iya, gapapa. Nanti kita beli saja di warung”. Case Closed!
Tapi lama lama kok ya rasanya di hati ga enak juga, ga masakin suami hanya gara-gara males. Kalo aku sibuk iya gapapa, kalo aku sakit iya gapapa. Lha kalo aku males?.. Suamiku hampir tiap hari kerja, mencari rizqi yang halal dan barokah untuk menafkahi istrinya yang cantik, lucu dan jimbrut ini. Meski males juga tetep kerja. Selayaknyalah aku gundah gulana bila tak menyiapkan makanan untuk suamiku padahal aku bisa. Sangat bisa malah..
Suamiku tipe orang yang Alhamdulillah jarang ato bahkan hampir tidak pernah mencela makanan, dan selalu mengajarkanku hal yang sama, mensyukuri makanan yang ada dan bila tak suka cukup tinggalkan, jangan mencela. Meski tetep saja aku kadang menggerutu kalo ada makanan rasanya ga karuan, apalagi kalo beli (Kesel bo’..). Masakanku yang kadang aku rasa kurang sedap pun selalu dia makan walau sedikit. Ketika dia menyukai masakanku maka dia akan memejamkan mata dan berucap “Alhamdulillah..” berulangkali sambil makan. Dan itu hampir terjadi di setiap masakanku. Jadi alasan apalagi yang bisa membenarkanku tak memasakannya dengan alibi malas. Tak selayaknya kumewahkan rasa malasku.
Jadi kesimpulannya hari ini aku akan memasakkannya. Makanan kesukannya.
Ya Allah ijinkanlah aku memasakkannya sepanjang umurku, bahkan ketika mata tuaku sudah tak bisa membedakan antara bayam dan sawi tanpa adanya kacamata. Amin..
Sabtu, 07 Agustus 2010
TOELIESAN PERTAMA NJONJA OELFA MOESHOFA
Latar Belakang
Kenapa membuat blog? Yang pertama adalah iseng, kedua adalah iseng, ketiga adalah iseng. Setengah bohong, ini yang asli... . Aku, Ulfa Mushofa, adalah seorang yang punya hobi sebagaimana umumnya para manusia di dunia ini yaitu mengemukakan pendapat berupa saran, sanjungan atau kecaman, membahas sesuatu dari hal yang remeh temeh sampai hal yang bersifat sangat prinsip buatku dan mungkin yang paling sering adalah, mmmmm….. mengomel. Yak, kupikir mengomel kata yang lebih representatif untukku :P
Jangan salah, aku pikir mengomel merupakan salah satu bentuk ekspresi dari jiwa dan ungkapan dari hati, merupakan sarana agar aspirasi kita dapat diketahui oleh orang lain, dan juga merupakan salah satu fakta bahwa kita tidak menderita autis (karena kita kita mampu beraksi atas peristiwa di sekitar kita) (Mushofa, 2010). Btw, aku tidak tahu apakah aku sedang menjelaskan definisi tentang mengomel atau sedang bersikap defensif untuk melakukan pembenaran atas perbuatan mengomel.
Permasalahan
Sebenarnya sampai saat ini dilihat dari data statistik tidak pernah muncul permasalahan yang signifikan pada akibat hobi-hobiku yang tersebut di atas (dengan selang kepercayaan 95%), suamiku selalu menjadi pendengar dan komentator yang sangat baik. Selain kusuarakan melaui mulut, seringkali juga kuketik dan kusimpan dalam dokumen berbentuk word. Permasalahan muncul ketika aku mulai berpikir bahwa “mumpung aku bisa, aku dapat melakukan sesuatu yang lebih dari ini, dan aku memerlukan suatu wadah yang lebih baik”. Tapi bagaimana caranya?
Tujuan
Blog ini dibuat dengan tujuan menjadikannya sebuah wadah untuk menyuarakan hasil pemikiran dan pendapatku dengan menggunakan tulisan dan memanfaatkan media publikasi.
Hipotesis
Pembuatan blog ini diduga akan :
Mampu mendorong minat menulisku
Mampu meningkatkan kemampuan menulisku
Mampu meningkatkan minat baca untuk menambah referensi pada topik-topik yang ingin aku bahas
Mampu menginspirasi makhluk-makhluk yang lain untuk mau dan cukup percaya diri untuk menulis, becoz I am so inspiring (www.ulfasuperpede.com) ^_^
Metodologi
Alat :
Pembuatan blog ini dilakukan dengan menulis serta merta hal-hal yang pengen aku share. Penulisan dilakukan dengan menggunakan seperangkat computer (biasa aku menyebutnya Kokom) yang tesusun atas sebuah keyboard (ya iyalah 1, tanganku cuma 2), monitor, CPU dan jaringan internet yang didanai oleh Prasetyo Foundation. Keyboard digunakan untuk mengetik oleh jari-jariku yang lumayan lentik (Prasetyo, 2008, 2009, 2010). Monitor berfungsi untuk melihat hasil ketikan juga penampakan setelah penulisan, sehingga dapat dilakukan pengeditan. Btw, penampakan kesannya serem amat yak..
Bahan :
Bahan tulisan adalah semua peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi, baik terjadi langsung kepadaku (Ulfa Mushofa) selaku penulis atau terjadi pada orang lain. Hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan bahan diatas, namun menjadi pemikiran yang dilanggap layak untuk ditulis juga bisa menjadi bahan tersendiri untuk penulisan.
Metode:
Metode penulisan blog ini dilakukan dengan semau-maunya dengan tanpa mengindahkan Ejaan Yang Dibenarkan (yang selanjutnya akan disingkat EYD), serta kemungkinan akan disukai atau tidak oleh pembaca.
Daftar Pustaka
Teguh Prasetyo. 2008. Jarimu lentik juga ya bun. Edisi pertama. Prasetyo Press. Bogor.
Teguh Prasetyo. 2009. Jarimu lentik juga ya bun. Edisi kedua. Prasetyo Press. Bogor.
Teguh Prasetyo. 2010. Jarimu lentik juga ya bun. Edisi ketiga. Prasetyo Press. Bogor.
Ulfa Mushofa. 2010. Mengomel itu kadang indah. Mushofa Press. Bogor.
Ucapan Terimakasih
Prasetyo Foundation, atas dukungan moral serta finansial.
Budhe Nana, atas saran dan kerjasamanya.
Mbak Indah Wijayanti, atas bujukannya membuat blog setahun yang lalu (aku dah bikin tahun 2008 mbak, dah tak buang).
Langganan:
Postingan (Atom)



