Jumat, 15 April 2011

Die Schokolade (1)

1300931075850658530

Kisah  ini terjadi  saat itu aku tinggal di Hannover, bersama  seorang ibu (warga Jerman asli). Ibu kosku ini hampir selalu tertarik dengan masakanku, seringkali bertanya ini apa itu apa, gimana rasanya. Seringkali juga mencicipi. Dia pernah tinggal di India, jadi lumayan doyan masakan berbumbu dan PEDAS (pedas karena cabe termasuk makanan yang kurang disuka sama orang Jerman).

Entah saat itu aku sedang masak apa, yang jelas masakanku ada cabenya, terus pas terakhir aku masukin kecap manis.  Ibu kos bertanya, “Was ist das?”, itu apaan. Aku bilang ini saus yang terbuat dari kedelai, di Indonesia disebut kecap.  “Kann ich das probieren?”, boleh ga ngicipin?.  Ya, silahkan. Terus dia tetesin sedikit kecap ke tangannya kemudian dicicipin. “Süß!”, manis katanya. Terus aku jelasin ke do’i kalau secara umum orang di Indonesia suka masakan pedas, bahkan ada daerah tertentu  yang suka pedas sekali (Sumatera maksudku). Aku bilang kalau aku termasuk suku Jawa, dan kesukaan kami adalah mengombinasikan rasa pedas dan manis di dalam masakan.  “Scharf und süß?  OK.”.  Pedas dan manis? OK.

Selang beberapa hari kemudian sewaktu aku pulang dari kampus dia memanggilku dan mengajakku ke kamarnya. “Ich habe etwas für dich!”, aku punya sesuatu buat kamu, katanya dengan penuh semangat.  Dengan wajah kian semangat dia mengambil sesuatu dan menyodorkannya padaku, “Scharf und süß!”.
Glek! Ah mama mia… Dia sodorkan padaku 1 bungkus coklat. Coklat rasa cabe… Aku buka bungkusnya, aku potong dan aku makan 1 blok kecil coklat itu, di depannya. Aku ucapkan terimakasih buat perhatiannya dan tak lupa aku setting mukaku supaya tampak sangat menikmati cokelat itu. Buru2 aku pamit ke kamarku, karena aku tak ingin dia memaksaku untuk memakan 1 bungkus cokelat itu.
Oh..aku memang suka pedas dan manis, tapi bukan yang seperti ini….


Sehari Setelah Anda ......


1296033844959365979

Eh.. Ya ampuuuuun… Apa kabar? Lama ya kita ga ketemu. Kapan nih mau kaya raya? Kapan rencananya mau dapet musibah? Kapan pengen sakit kanker? Kapan nih jadwalnya mati?…
Kenapa pertanyaan ‘kapan-kapan’ di atas belum pernah saya dengar sampai sekarang ditanyakan ke orang? Padahal kalau musibah bisa direncanain, kan enak. Bisa diatur-atur supaya pas waktunya, pas tempatnya, pas dengan kondisi keuangan. Terus kalau mati bisa dijadwalin kan bisa kabar-kabar dulu supaya orang-orang tercinta nanti ga kaget, supaya yang lagi jauh-jauh bisa pesen tiket dulu biar bisa datang buat ngasih kata perpisahan, calon jenazah juga bisa ikut milih nanti pas di kuburan pengen ditabur pake bunga mawar, bunga melati, bunga kopi atau ‘bunga desa’? Atau mungkin mau dimandiin pake sabun merk apa?

Kalau boleh nebak, pasti jawaban anda adalah “Pertanyaan aneh. Lahir, jodoh, rezeki dan mati kan ada di tangan Tuhan?!”.
Tapi kalau ternyata tebakan saya salah juga ga apa-apa, kan ga pake taruhan… :P
So… Kalo urusan lahir, jodoh, rezeki dan mati ada di tangan Tuhan… Kenapa ada pertanyaan
“Kapan lulus nih? Lama amat.”
“Kapan kamu nikah?”
“Kok belum punya anak juga, kapan?”
“Kapan nih…………..?”
“Lha ……………………… kapan?”.

Pertanyaan kapan mau menikah dulu sering saya dapat, tapi sekarang pertanyaan itu sudah kadaluarsa bahkan sangat kurang ajar kalau ditanyakan, karena saya sudah menikah sejak 2 tahun lalu. Sekarang jatah pertanyaan untuk saya “Kapan punya anak?”.
Padahal untuk saya saat ini saya masih santai. Sesantai bang Haji Rhoma Irama dengan gitarnya. Sesantai makan coklat Silverqu**n.
Mau dikasih anak sekarang Alhamdulillah, nanti juga Alhamdulillah. Alhamdulillah saya merasa masih pengantin baru, jadi masih merasa tidak apa-apa belum punya anak. Gandeng renteng berdua saja dengan suami serasa masih pacaran, tapi pacaran penuh berkah.

Tapi seringnya pertanyaan itu ditujukan kepada saya, membuat empati saya terhadap korban-korban dari peluru “Top 10 pertanyaan paling membosankan di dunia” itu tumbuh. Untuk mereka yang sedang menanti-nantikan kelulusan, jodoh atau anak dengan sungguh-sungguh, untuk mereka yang telah menantikannya bertahun-tahun… Jelas itu bukan pertanyaan yang membahagiakan. Dan empati itulah yang menginspirasi tulisan ini.
Ada sahabat yang jadi enggan ke wisudaan temennya karena ogah ditanya kapan lulus.
Ada sahabat saya yang jadi malas kumpul-kumpul karena bosan ditanya kapan akan menikah.
Ada sahabat yang lain yang saat lebaran menjadi saat penuh tekanan karena bertemu sanak saudara yang selalu menanyakan kapan punya anak.

Padahal pertanyaan itu mereka ajukan bukan karena benar-benar ingin tahu dan benar-benar perlu jawaban, tapi tidak lebih dari basa basi yang menurut saya sangat basi, karena bisa saja pertanyaan itu membuat orang nyesek, bahkan bisa sampai terisak-isak nantinya. Jadi mulai sekarang saya mencoba lebih berhati-hati dalam berbasa-basi, semoga basa-basi tidak melukai hati.

Untuk sahabat-sahabat yang sama-sama sedang menanti. Marilah mencoba untuk tetap memohon dan berusaha, mencoba berbesar hati atas pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kita dengan mengingat bahwa mereka sama sekali tdak bermaksud menyakiti hati. Atau kalau memang diperlukan, anggap saja terjadi kerusakan sementara pada pita suara si penanya, sehingga yang anda liat dia hanya mangap-mangap ga ada suaranya, jadi ga dengar dia sedang nanyain apa.
Untuk sahabat-sahabat yang kadang hanya bermaksud berbasa-basi tanpa ada tujuan menyakiti hati, cobalah mulai menganalisa seberapa besar manfaat pertanyaan basa-basi yang kita lontarkan, karena sengaja ataupun tidak mungkin luka yang akan dibentuk sama saja. Mari bersyukur terhadap apa yang telah dikaruniakan kepada kita, tak perlu menanyakan hal tidak dapat diatur-atur dan dikuasai oleh sahabat kita yang lain. Bersyukur saja bahwa kita telah mendapat apa yang mungkin orang lain masih tunggu-tunggu.


P.S: Entah kenapa saya sering membayangkan ilustrasi dari pertanyaan ini.
Ada seseorang sedang memegang satu gelas air segar, meminumnya dengan nikmat sampai habis. Setelah bersendawa kemudian dia bertanya pada orang di sebelahnya “kok kamu ga cepetan minum sih?”, padahal yang yang ditanya sudah tiga hari menahan haus karena ga punya air untuk diminum. Oh teganya.. teganya.. teganya..



Jangan Beritahu Dia…


Pernahkah kau terbangun dari tidurmu dan menyadari suatu hal…
Bahwa kini tiada lagi cinta di hatimu. Tiada lagi cinta yang kau rasa pada setiap sentuhannya.. Pada setiap belaiannya.. Hatimu telah terbawa pada seseorang lain.. Pada satu cinta yang lain…
Hitam putih warna hatimu silih berganti. Bimbang apa yang harus kau ucapkan pada kekasih setiamu yang tertidur dengan nyamannya di sebelahmu. Apa yang akan kau katakan padanya, sedangkan kau tahu pasti hatimu mencinta yang disana. Apa yang akan kau bisikkan padanya, sedangkan setiap malam dia bisikkan janji hatinya untuk tetap mencintaimu. Selama-lamanya..
Jangan.. Janganlah kau pergi.. Jangan lukai kekasihmu, jangan menistakan cintanya padamu.
Berjanjilah akan tetap ada di sampingnya. Apapun yang terjadi nanti, rawatlah kekasihmu, rawatlah cintanya.
Meski setiap terbangun kau selalu memikirkan yang di sana.
Jangan. Jangan beritahu kekasihmu..

Seperti itu kira-kira isi lagu Sheila on 7 berjudul “Jangan beritahu Niah”.
Sujud kupersembahkan pada sang Maha Pencipta Cinta yang sampai hari ini tetap menyematkan peniti cinta kasih padaku, terhadap pasangan hidupku. Tak pernah aku terbangun dan kehilangan cintaku padanya. Tapi jangan pernah lupa bahwa kita manusia.
Sungguhpun dialah hidupku dan dapat aku berjanji hari ini : rela kutukar seluruh dunia demi dia. Namun aku bukan pemilik hati. Hati ini hanya kebetulan terletak di tubuhku. Sekuat apapun aku takkan mampu aku benar-benar menguasainya. Tak ada satu manusiapun yang dapat menjamin sumpah setiaku padanya.
Oleh karenanya, ada dua do’aku. Bila aku terbangun, dan menyadari hilangnya cinta, maka semoga akan sanggup kunyanyikan lagu ini dalam hati dan lakuku. Doa’ku yang lain adalah, bila kekasihku terbangun dan menyadari hilangnya cintanya padaku, semoga dia akan melakukan hal yang sama.
Sampai cinta datang kembali dan membawa kami ke langit.

Sumpah Serapah untuk Negeri


Saya. Saya adalah orang yang sungguh-sungguh mencintai negara saya. Bagi saya negara saya adalah suatu kebanggaan, kalau boleh saya taruh negara saya di atas kepala saya. Jangan sekali-kali ada yang memandang rendah, menghina dan atau melecehkan negara saya.

Jika ada yang berani melakukannya, akan saya kutuk dia seumur hidup saya. Apakah kutukan saya manjur? Itu bukan urusan saya, yang penting saya mengutuk! Siapapun yang berani menghina saya, harus menghadapi saya, langkahi dulu mayat saya! Ya tapi kalau mau perang beneran ya jangan ajak-ajak saya,lah. Saya kan bukan tentara, itu kan tugasnya tentara. Saya kan bagian koar-koar saja, saya kibarkan bendera perang dimana-mana, saya nyalakan api kebencian dimana-mana. Sudah itu saja tugas saya. Mau menagih janji untuk melangkahi mayat saya? Ya nanti dululah.. biar saya hidup senang dulu, kemudian mati dengan tenang, baru langkahilah mayat saya.
Saya ini kan warga negara. Jadi saya pikir saya berhak untuk menagih pada negara : “Apa yang bisa  negara berikan pada saya?!” Bukankah janjinya negara menjamin kehidupan rakyatnya.. Ya kalau mau menagih balik “apa yang bisa saya berikan pada negara?” ya nantilah, sejahterakan saya dulu baru saya pikirkan apa yang mau saya perbuat untuk negara.

Jangan menagih-nagih saya, tagih saja itu para wakil rakyat yang tidak tau diri dan tidak punya moral. Negara kan tanggung jawab mereka, saya ini rakyat kecil, jangan bebankan negara pada saya. Kalau pimpinan saya bejat ya jangan salahkan saya kalo sekali-kali bikin ulah sedikit bejat. Tuhan nanti pasti sibuk menghitung dosa mereka, jadi dosa saya tidak akan terlihat. Saya yakin Tuhan baik, dan tidak akan meributkan dosa-dosa kecil.
Saya cinta negara ini. Jiwa memiliki saya terhadap negara ini sangat tinggi. Contohnya: jalan itu punya saya. Ya, jalan raya itu punya saya saja, jadi jangan salahkan saya kalau saya enggan berbagi jalan raya dengan yang lain.
Bumi ini, bumi yang saya pijak ini juga bumi pertiwi saya. Saya mau buang sampah di mana juga bukan urusan anda. Daripada sampah menuh-menuhi tas atau mobil saya, kan mending saya lempar ke bumi tercinta. Toh kemungkinan juga ada yang bakal memungut. Kalaupun tidak ada ya paling-paling masuk sungai atau got, ya paling-paling nyumbat saluran air. Ya kalau banjir saya salahkan saja pemerintah setempat yang ga mau telaten ngambil sampah saya.
Sudah, sudah. Jangan protes. Ini negara saya, terserah saya mau bilang apa dan bagaimana. Yang penting saya punya niat untuk membangun negara. Membangun negara dengan sumpah serapah, dan anda lihat saja nanti hasilnya.
Hanya satu harapan saya : semoga anda bukanlah saya.

Hermaproditkah Saya?



Kalaulah saya menunjukkan wajah saya atau foto saya, tentulah anda bisa langsung mengenali dari planet mana saya datang. Bukan karena kepala saya yang besar dan tidak berambut (seperti kebanyakan visualisasi alien di film-film), namun karena dengan melihat wajah saya anda pasti yakin saya berasal dari planet Venus. He-eh, saya perempuan tulen. Kalau tidak percaya, silahkan tanya pria yang menikahi saya sejak tahun 2008 silam.

Hermaprodit. Secara ilmu biologi didefinisikan sebagai individu yang memiliki 2 alat/organ kelamin, yaitu jantan dan betina.
Apa hubungan saya dengan hermaprodit?
Di Kompasiana saya menggunakan ID: Frau Mushofa. Sebenarnya Frau adalah bahasa jerman dari nona atau nyonya, jadi kurang lebiih artinya adalah nyonya Mushofa. Tapi jelas saya tidak hendak menyalahkan orang yang tidak tahu arti Frau, karena tidak ada kewajiban untuk mengetahuinya.
Sepasang mata yang begitu indah dan cantik (hasil googling) untuk profile picture, ternyata masih kurang mampu memberi keyakinan bahwa saya adalah perempuan, sehingga seringkali mereka yang komen di tulisan saya mereka menyapa  ’mas Frau’. Saya kurang begitu tahu, apakah karena nama Mushofa bisa salah baca jadi Mustofa, atau kalimat saya yang tampak ganteng.

Sampai saat ini pun saya kurang dapat mengerti sepenuhnya kenapa sahabat-sahabat saya kadangkala mengkategorikan saya sebagai perempuan 1/2. Ada yang bilang “saya saja yang teman kamu ga tau kamu itu cewek atau cowok”, kesimpulan ; dia masih ragu jenis kelamin saya. Kadang lagi ketika nimbrung dengan teman-teman cowok (jaman kuliah dulu) yang lagi ngebahas cewek, mereka menekankan “yang kita omongin nih cewek beneran lho ya, bukan cewek jadi-jadian kayak kamu”, yang ini lebih parah karena mereka sudah memvonis bahwa syarat saya untuk masuk kategori cewek beneran masih  belum mencukupi.
Kenapa ya?…

Saya bungsu dari 3 bersaudara, cewek semua. Secara penampilan saya pikir saya cukup perempuan, dari wajah saya pikir saya sangat perempuan (malah katanya cantik, bapak-ibu dan suami saya saja sih yang bilang.hehe….).
Apa karena saya termasuk tipe yang ekspresif dan spontan? Atau karena kadang saya terlalu blak-blakan dan nyolot? Atau gara-gara saya sering terlalu jujur kalau pas kentut? Atau.. apa ya?.. setau saya tidak banyak orang yang tau bahwa beberapa kali saya bertengkar dengan preman pasar gara-gara mereka mau nyopet sahabat saya.. tidak pernah juga saya bilang-bilang kalau jaman SMP saya adalah satu-satunya cewek sekaligus pelopor barisan penerobos pagar saat pelajaran ngaji tambahan di masjid..
Hmmm.. Yowislah, tidak apa-apa dipanggil mbak, tidak apa-apa pula dipanggil mas, tidak apa-apa dibilang perempuan jadi-jadian. Anggep saja saya kaset, ada side A ,ada side B. Yang penting masih bisa bunyi :)

Monster Plant?



Kalau saya sebut Frankesnstein, apa yang ada dalam bayangan anda?
Terus kalau tanaman Frankenstein apa pula yang anda bayangkan?
Ya manalah saya tau apa yang anda bayangkan. Saya kan tidak dikaruniai keahlian membaca pikiran orang… Kalau saya sendiri, mungkin membayangkan sesuatu yang menyeramkan atau agak mengerikan, begitulah kurang lebihnya.
Saat ini pasti kita sudah sering mendengar istilah transgenik. Trans = perubahan, genik=yang berhubungan dengan genetika. Jadi produk transgenik adalah produk yang mengalami perubahan secara genetika. Terlalu rumitkah kalau saya menyebut perubahan genetika pada suatu organisme? Sebenarnya tidak juga, karena pasti dari jaman SD kita sudah mengenal kata penyilangan dan penyerbukan, disitu juga terjadi perubahan informasi genetika pada organisme baru yang dihasilkan. Bahkan bukankah kita sendiri juga merupakan hasil ‘penyerbukan’ bapak dan ibu kita? Jadi sebenarnya dalam kehidupan sehari-haripun telah terjadi banyak perubahan tatanan gen dalam makhluk hidup. Ada yang disengaja, ada pula yang tidak.

Lalu kenapa ketika muncul isu transgenik lantas semua menjadi menyeramkan? Bahkan banyak negara di Eropa yang boleh dibilang lantang menyatakan anti produk transgenik. Namun anehnya ilmu transgenik cukup pesat di Eropa. Sebuah Institute di Hannover tempat saya belajar ilmu klenik tersebut juga melakukan riset dan merakit tanaman transgenik, tapi untuk produksi mereka harus keluar dari Jerman, mereka melakukannya di Polandia. Entah kenapa seperti itu.

Ketika duduk bersama dan berdiskusi dengan anggota parlemen di Bundesreich, kami juga sempat menanyakan dan membahas tentang produk transgenic di Jerman, tapi jawabannnya juga muter-muter, terlalu politik kalau menurut saya.
OK, mungkin ada sisi-sisi yang dianggap negatif dalam proses rekayasa genetik dalam beberapa sudut pandang, tapi saya pikir apapun bendanya selalu memiliki sisi posistif dan negatif. Namun hendaknya ketakutan itu didasari dengan ilmu atau minimal logika. Kalau anda tidak mau makan produk transgenik gara-gara kawatir sistem gen dalam tubuh anda akan berubah, tentu saja sangat berlebihan. Karena bila hal itu terjadi, harusnya para vegetarian mampu berfotosintesis sendiri. Mereka kan suka sayuran, dimakan mentah pula, tapi kenapa kulit mereka tidak berubah jadi hejo karena klorofil? 

Anda seringkali makan daging ayam, tapi kenapa sampai hari ini anda tidak punya ‘telur’ yang bercangkang? Itu karena anda tidak makan gen, tapi makan protein. Apapun yang anda makan akan diurai menjadi asam amino dan kemudian diproses untuk metabolisme tubuh anda.
Mau bilang tidak mau makan produk transgenik ya percuma saja kalo anda adalah pecinta susu kedelai, tahu, tempe beserta kroni-kroninya, karena sebagian besar kedelai yang ada di Indonesia adalah hasil import, dan itu adalah produk TRANSGENIK. Bukan kedelai Frankenstein!

Lagipula apalagi yang hendak ditakutkan oleh bangsa sesakti kita? Pestisida dilahap, Escherichia coli & pewarna tekstil ditenggak, formalin & boraks dikunyah… Kadang sambil bercanda saya bilang, “kalau anda bisa survive di Indonesia, maka kemungkinan besar anda akan dapat hidup di negara manapun”

Pertamax, Gan? Puih…


Sejatinya saya boleh dibilang Kaskuser abal-abal. Saya tidak punya KTP di Negara Kaskus, tidak punya ID. Tapi saya rajin sambang, sekedar tengok-tengok atau kadang layeh-leyeh di sana. Saya bisa menemukan beragam informasi. Dari yang serius sampai dengan postingan buat lucu-lucuan saja.
Namun sampai saat ini ada beberapa hal yang saya herankan bahkan kadang saya sayangkan

PERTAMAX.
Apa sih enaknya jadi pertamax, gan? Lha wong yang posting aja ga penting blas buat saya, apalagi yang komen pertama.
Banyak komentator yang ga baca isinya, yang penting jadi pertama komen. Baca Judul aja, jadi kadang komen ga nyambung sama isi.
Hal yang sama sering juga saya temui di Kompas dan KOMPASIANA tercinta. Yang penting baca judul, terus komen. Marah-marahlah, umpat-umpatlah, caci makilah, yang penting komen. Padahal judul bisa sangat menipu.

KEJAR PANGKAT
Saya kurang tau persis bagaimana perubahan/peningkatan status di dalam manajemen Kaskus. Tapi yang sering saya lihat banyak yang posting sampah, repost. Jadi sebenarnya motifnya bukan menulis atau sharing lagi kalau menurut saya, tapi kejar postingan supaya bisa naik pangkat.
Menulis sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan sumber dan keabsahan tulisan, jadinya ya hoax doang. Yang parah seringkali hoax yang bombastis dipake lalapan alias dilahap mentah-mentah sama si agan-agan yang komeng di bawahnya
Tambah lagi kejar cendol, kejar sundulan….. Gak paham saya, gan..
Whatever,… Kenyataanya  meski banyak sampah di sana-sini tetap saja saya pecinta  Kaskus , Kompas dan tentu saja Kompasiana.