Senin, 06 Desember 2010

Malaikat Pendadar Telur





20.00 WIB. Regenstadt (Buitenzorg).  27 Nopember 2010.

Lauk dan sayur masakan hari ini masih ada, namun sepesang suami istri ini sepakat bahwa malam ini akan ada menu tambahan berupa telur dadar kesukaan mereka, dan sesuai kesepakatan pula sang suami yang akan memasaknya. Setelah membuat kesepakatan, si istri sibuk di depan komputer mengedit revisi tugas akhirnya, sedang si suami menikmati weekend dengan ngegame di laptop.

30 menit kemudian, si istri sudah mulai merasa lapar, dia menoleh kepada suaminya,  masih asyik main games rupanya. 30 menit selanjutnya, semakin laparlah si istri, namun belum ada sinyal bahwa suami akan menjalankan kesepakatan malam ini. Si istri mencoba mengalihkan rasa lapar dengan melanjutkan pekerjannya, alih-alih lupa rasa laparnya justru semakin lapar. Sejenak si istri berpikir bagaimana caranya bisa bertindak sesuai dengan slogan pegadaian ‘menyelesaikan masalah tanpa masalah’.

Beberapa menit kemudian si istri menggeser duduk ke dekat suaminya. Duduk dengan santun, kemudian tangan dan wajahnya menengadah. Si istri pun mulai  berdo’a  dengan suara khidmat dan sungguh-sungguh berharap : “Ya Allah, hamba lapar. Lapaaar sekali… Mohon kirimkanlah malaikat pendadar telur kepada hamba. Amin”.

Suami langsung tertawa usai mendengar do’a si istri yang berada di sampingnya, menghentikan acara ngegamenya, mencium kening istrinya dan beranjak ke dapur, menjelma menjadi malaikat pendadar telur. Dan sejam kemudian, istri pun menjelma menjadi peri  pencuci piring.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar