Akulah Sang Matahari
Hari ini buka Facebook, ada sahabat yang update status macam ini : “Aq tdk bs senang di atas kesedihan org, tp kalo org senang dgn kesedihanku, rela deh bersedih-sedih terus”
Hmm.. sounds great. Berhati mulia sekali sahabatku ini. Tapi enggak “gue banget”.
Boleh dibilang mungkin aku tipe oportunis, meski tentu saja tidak selalu. Tapi aku selalu merasa kurang sreg dengan permintaan pengorbanan yang tanpa batas. Salut ku ucapkan untuk orang-orang yang bisa melakukannya. Tapi aku tak bisa, atau lebih tepatnya tak mau.
Membahagiakan yang lain bukan berarti meletakkan kehidupanku ke dalam rendaman kesedihan, memberi banyak bukan berarti tak menyisakan apa pun buatku.
Bukankah bila benar ikhlas, maka membahagiakan orang lain akan menjadikan diriku bahagia. Lalu milik siapa kesedihan dan ketidakbahagiaan itu?.. Bila aku mampu membahagiakan orang lain sebanyak-banyaknya, maka aku yakin itu berarti aku akan hidup dengan tertimbun bahagia saking banyaknya kebahagiaan yang kumiliki. Aku yakin seperti itu. Aku yakin hukum mata rantai itu.
Aku. Aku tak ingin mengatakan “aku rela menjadi lilinmu”, karena dengan menjadi lilin aku hanya akan mampu menerangi semalam saja, lalu terbakar habis..
“Akulah mataharimu” yang akan menerangi alammu, yang akan memantulkan cahayaku sehingga kau tak tenggelam di dalam kegelapan meskipun kau sedang membelakangiku, yang akan membuatmu banyak belajar dari cahayaku, yang akan bersinar untukmu sampai akhir jaman. Bila aku membuatmu kepanasan, maka berlindunglah kau di balik awan. Dan bila kau menyentuh titik apiku, jangan salahkan aku bila kau hanya menjadi abu. Semua itu kulakuan bukan demi cintaku padamu, tapi karena itu adalah aku, sang matahari.
Aku tak sanggup jadi lilin, biarkanlah aku jadi matahari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar