Kaos merk Adidas warna biru. Melar. Kumal. Kusam. Aku sudah pernah bilang ke suamiku, aku kurang suka dia pakai baju itu. Tapi berhubung si pemilik suka dan nyaman memakainya, ya sudahlah…
Kaos itu, kaos yang tak kusuka itu. Aku menyatukannya bersama baju-baju yang lain. Aku mencucinya dengan air yang sama dengan baju-baju yang lain. Aku menyetrikanya dengan setrika yang sama. Aku melipatnya dengan model lipatan yang sama. Bahkan aku juga memberikan pewangi & pelembut yang sama, sama persis dengan yang kuberikan ke hem kesayangannya (oleh-oleh istrinya yang cantik dan baik hati dari Jerman.hehehe..).
Pernahkah kau tak menyukai seseorang atau beberapa orang? Aku pernah. Sering malah.
Lalu kenapa pula sikapku jadi berbeda pada mereka yang tak kusuka. Kata-kata yang kugunakan mungkin sama persis dengan yang lain, tapi intonasi kadanglah tak sama. Kenapa…
Apakah aku lebih baik dari mereka? Kalo menurutku iya. Tapi secara hakikat tentu saja tidak. Manusia macam apa aku ini sehingga aku pasti lebih mulia dibanding mereka. Tapi mana bisa pula aku mengatur-atur hatiku untuk menyukai orang-orang yang tak kusuka.
Aku hanya ingin memperlakukan mereka seperti baju-baju suamiku. Bukan aku ingin mencuci dan menyetrika mereka… Maksudku, meski rasa suka dan tak sukaku tetap terpeta membentuk piramida, aku ingin belajar memperlakukan mereka sama selayaknya manusia yang lain. Bersifat Objektif dengan meminimalkan kecondongan hati. Agar aku dapat menghargai apa yang mereka kerjakan, bukan siapa yang mengerjakan hal tersebut.
Seandainya manusia hanyalah baju suamiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar