Eh.. Ya ampuuuuun… Apa kabar? Lama ya kita ga ketemu. Kapan nih mau kaya raya? Kapan rencananya mau dapet musibah? Kapan pengen sakit kanker? Kapan nih jadwalnya mati?…
Kenapa pertanyaan ‘kapan-kapan’ di atas belum pernah saya dengar sampai sekarang ditanyakan ke orang? Padahal kalau musibah bisa direncanain, kan enak. Bisa diatur-atur supaya pas waktunya, pas tempatnya, pas dengan kondisi keuangan. Terus kalau mati bisa dijadwalin kan bisa kabar-kabar dulu supaya orang-orang tercinta nanti ga kaget, supaya yang lagi jauh-jauh bisa pesen tiket dulu biar bisa datang buat ngasih kata perpisahan, calon jenazah juga bisa ikut milih nanti pas di kuburan pengen ditabur pake bunga mawar, bunga melati, bunga kopi atau ‘bunga desa’? Atau mungkin mau dimandiin pake sabun merk apa?
Kalau boleh nebak, pasti jawaban anda adalah “Pertanyaan aneh. Lahir, jodoh, rezeki dan mati kan ada di tangan Tuhan?!”.
Tapi kalau ternyata tebakan saya salah juga ga apa-apa, kan ga pake taruhan… :P
So… Kalo urusan lahir, jodoh, rezeki dan mati ada di tangan Tuhan… Kenapa ada pertanyaan
“Kapan lulus nih? Lama amat.”
“Kapan kamu nikah?”
“Kok belum punya anak juga, kapan?”
“Kapan nih…………..?”
“Lha ……………………… kapan?”.
Pertanyaan kapan mau menikah dulu sering saya dapat, tapi sekarang pertanyaan itu sudah kadaluarsa bahkan sangat kurang ajar kalau ditanyakan, karena saya sudah menikah sejak 2 tahun lalu. Sekarang jatah pertanyaan untuk saya “Kapan punya anak?”.
Padahal untuk saya saat ini saya masih santai. Sesantai bang Haji Rhoma Irama dengan gitarnya. Sesantai makan coklat Silverqu**n.
Mau dikasih anak sekarang Alhamdulillah, nanti juga Alhamdulillah. Alhamdulillah saya merasa masih pengantin baru, jadi masih merasa tidak apa-apa belum punya anak. Gandeng renteng berdua saja dengan suami serasa masih pacaran, tapi pacaran penuh berkah.
Tapi seringnya pertanyaan itu ditujukan kepada saya, membuat empati saya terhadap korban-korban dari peluru “Top 10 pertanyaan paling membosankan di dunia” itu tumbuh. Untuk mereka yang sedang menanti-nantikan kelulusan, jodoh atau anak dengan sungguh-sungguh, untuk mereka yang telah menantikannya bertahun-tahun… Jelas itu bukan pertanyaan yang membahagiakan. Dan empati itulah yang menginspirasi tulisan ini.
Ada sahabat yang jadi enggan ke wisudaan temennya karena ogah ditanya kapan lulus.
Ada sahabat saya yang jadi malas kumpul-kumpul karena bosan ditanya kapan akan menikah.
Ada sahabat yang lain yang saat lebaran menjadi saat penuh tekanan karena bertemu sanak saudara yang selalu menanyakan kapan punya anak.
Padahal pertanyaan itu mereka ajukan bukan karena benar-benar ingin tahu dan benar-benar perlu jawaban, tapi tidak lebih dari basa basi yang menurut saya sangat basi, karena bisa saja pertanyaan itu membuat orang nyesek, bahkan bisa sampai terisak-isak nantinya. Jadi mulai sekarang saya mencoba lebih berhati-hati dalam berbasa-basi, semoga basa-basi tidak melukai hati.
Untuk sahabat-sahabat yang sama-sama sedang menanti. Marilah mencoba untuk tetap memohon dan berusaha, mencoba berbesar hati atas pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kita dengan mengingat bahwa mereka sama sekali tdak bermaksud menyakiti hati. Atau kalau memang diperlukan, anggap saja terjadi kerusakan sementara pada pita suara si penanya, sehingga yang anda liat dia hanya mangap-mangap ga ada suaranya, jadi ga dengar dia sedang nanyain apa.
Untuk sahabat-sahabat yang kadang hanya bermaksud berbasa-basi tanpa ada tujuan menyakiti hati, cobalah mulai menganalisa seberapa besar manfaat pertanyaan basa-basi yang kita lontarkan, karena sengaja ataupun tidak mungkin luka yang akan dibentuk sama saja. Mari bersyukur terhadap apa yang telah dikaruniakan kepada kita, tak perlu menanyakan hal tidak dapat diatur-atur dan dikuasai oleh sahabat kita yang lain. Bersyukur saja bahwa kita telah mendapat apa yang mungkin orang lain masih tunggu-tunggu.
P.S: Entah kenapa saya sering membayangkan ilustrasi dari pertanyaan ini.
Ada seseorang sedang memegang satu gelas air segar, meminumnya dengan nikmat sampai habis. Setelah bersendawa kemudian dia bertanya pada orang di sebelahnya “kok kamu ga cepetan minum sih?”, padahal yang yang ditanya sudah tiga hari menahan haus karena ga punya air untuk diminum. Oh teganya.. teganya.. teganya..
"anggap saja terjadi kerusakan sementara pada pita suara si penanya, sehingga yang anda liat dia hanya mangap-mangap ga ada suaranya, jadi ga dengar dia sedang nanyain apa".
BalasHapuslucu deh mbayanginnya kayak apa ^_^
idem fa, bagiku lebaran itu momen yg menakutkan karna musti sowan ke rumah sodara yg doyan nanyain hal yg membosankan. Mendekati masa lebaran is the streesfull moment for me. Tapi, smoga saja taon ini bisa menghadapi itu semua dg legowo. CHAYOO...
Aamiin. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Kita sama semangat dan belajar berbesar hati ya, sahabat! :)
BalasHapus